Selasa, 26 November 2013

Ejaan Yang Disempurnakan


PENGERTIAN EJAAN
Pengertian Ejaan ialah keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.
1.    Pemakaian Huruf.
      a. Huruf Abjad.
          Huruf abjad yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah :
          A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y dan Z.
      b. Huruf Vokal.
          Huruf vokal di dalam bahasa Indonesia adalah : a, i, u, e dan o.
      c. Huruf Konsonan.
          Huruf konsonan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah :
          a, b, c, d, f, g, h, i, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, u, v, w, x, y dan z.
      d. Huruf Diftong.
          Didalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au dan oi.
      e. Gabungan Huruf Konsonan.
          Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan,
          yaitu : kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
      f.  Pemenggalan Kata.
          Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan dengan cara :
         Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf vokal itu. Contoh: aula  menjadi au-la bukan a-u-l-a.
        Jika di tengah kata ada konsonan termasuk gabungan huruf konsonan,  pemenggalan itu dilakukan sebelum huruf konsonan. Contoh: bapak  menjadi ba-pak.
          Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf  itu. Contoh : mandi menjadi man-di.
         Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan, pemenggalan itu dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan kedua. Contoh : ultra  menjadi ul-tra.

2.    Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring.
       a. Huruf Kapital atau Huruf Besar.
           Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung
           ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama
           jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, nama geografi, dll.
       b. Huruf Miring.
           Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar,
           yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk menegaskan
           huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
3.    Penulisan Kata.
       a. Kata Dasar, Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
       b. Kata Turunan, Kata turunan (imbuhan).
       c. Bentuk Ulang, Bentuk kata Ulang ditulis hanya dengan tanda hubung (-).
       d. Gabungan Kata, Gabungan kata yang dianggap senyawa ditulis serangkai.
       e. Kata Ganti ku, mu, kau dan nya, ditulis serangkai dengan kata yang  mengikutinya.
       f. Kata Depan di, ke, dan dari, Kata depan di dan ke ditulis terpisah.
       g. Kata si dan sang, Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
       h. Partikel, Partikel per yang berarti tiap-tiap ditulis terpisah.
4.    Singkatan dan Akronim.
       Singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya diperpendek terdiri dari huruf awalnya saja,
        menanggalkan sebagian unsurnya atau lengkap menurut lisannya, Contoh : NKRI, cm,  lab.
        Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, ataupun gabungan
        Kombinasi huruf dan suku kata. Contoh : rudal ( peluru kendali ), tilang ( bukti pelanggaran ).

5.    Angka dan Lambang Bilangan.
       Penulisan angka dan bilangan terdiri dari beberapa cara yaitu :
       a. Berasal dari satuan dasar sistem internasional, Contoh : arus listrik dituliskan A = ampere.
       b. Menyatakan tanda decimal, Contoh : 3,05 atau 3.05.
6.    Penulisan Unsur Serapan.
       Penulisan unsur serapan pada umumnya mengadaptasi atau mengambil dari istilah bahasa
       asing yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Contoh : president menjadi
       Presiden.
7.    Pemakaian Tanda Baca.
       Pemakaian tanda baca terdiri dari tanda (.) , (,), (-), (;), (:), (”).
8.    Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
       Pembentukan istilah asing yang sudah menjadi perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia
       mengikuti kaidah yang telah ditentukan, yaitu :
       a. Penyesuaian Ejaan.
          Contoh : ae jika tidak bervariasi dengan e, tetap e, aerosol tetap aerosol
       b. Penyesuaian huruf gugus konsonan.
           Contoh : flexible  menjadi fleksibel.
       c. Penyesuaian akhiran.
           Contoh : etalage  menjadi etalase.
       d. Penyesuaian Awalan.
           Contoh : amputation  menjadi amputasi.
9. Gaya Bahasa.
    Gaya bahasa ialah penggunaan kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk
     mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan maksud tertentu. Gaya bahasa berguna untuk

     menimbulkan keindahan dalam karya sastra atau dalam berbicara. Gaya bahasa
     disebut juga majas.
    Gaya bahasa simbolik adalah gaya bahasa yang menggunakan perbandingan symbol benda, lambang, binatang atau tumbuhan. Contoh : Lintah darat harus dibasmi ( Lintah darat adalah simbol pemeras, rentenir atau pemakan riba).
    Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebihan. Contoh : Tawanya menggelegar hingga membelah bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar